Cara Mengganti Paspor Biasa jadi E-Paspor, Mudah dan Cepat!

Postingan ini adalah revisi dari Tweet saya beberapa waktu lalu perihal mengurus e-paspor dan visa waiver Jepang pada tanggal 30 Maret 2018. Jujur saya nggak ngira sih bakal diretweet dan dapat tanggapan serta pertanyaan dari banyak orang. Begitu inget kembali, ah.. aku ada yg skip!

Seluruh proses dan kejadian nyata serta benar adanya, hanya waktu itu ada kesalahan penulisan (dan ingatan, huhu) hari di mana saya mengambil e-paspor dan visa waiver. Sisanya sih sama aja kok. Sama-sama mudah, sama-sama cepat (total 4 hari saja!) dan saya ingin coba lengkapi kembali infomasinya ya.

DAFTAR SECARA ONLINE MELALUI APLIKASI

Awal cerita saya belum tahu kalau per tanggal 16 Mei 2017 sudah gak bisa daftar paspor dengan datang pagi atau bahkan subuh ke Kantor Imigrasi.
Jadi di awal Juli hari Rabu kami (saya, Erfan dan 2 sahabat kampus) datang ke Kantor Imigrasi Jakarta Selatan alias Mampang, jam 06.00 sudah sampai. Tapi kok sepi? Kok nggak ada antrian panjang mengular? Pernah dapat cerita dari sahabat, antre di loket aja pakai sendal/sepatu. Huaaa.. Tapi kok ini malah tampak tenang. Hanya ada beberapa sekuriti di lobi luar kantor, melayani orang-orang yang membawa map. Ah! Apakah mereka sama kayak saya, mau urus e-paspor?

Kami bertiga (saya, Desti dan Mila) yg sudah beli tiket ke Jepang di Garuda Travel Fair berniat mengganti paspor lama menjadi e-paspor demi mudahnya mengurus Visa alias Visa Waiver Jepang walaupun masa berlaku paspor kami masih panjang. Biar gak ribet print ini itu, peluang diterimanya juga jauh lebih besar. Stick with me, okay. Kembali ke urus e-paspor dulu.

Saat menghampiri sekuriti lobi, saya langsung menanyakan soal ambil nomor antrean. Tapi beliau tanya balik, “sudah daftar online belum, Ibu?”

Bukan, bukan karena dipanggil Ibu saya keselnya. Tapi lebih karena merasa kok gue bisa skip ya? “Emang e-paspor udah bisa (diurus) online sekarang?” tanya saya balik dengan tatapan bete. Padahal bukan salah bapak tersebut -__-‘ Emang gitu akutu.

“Iya, Ibu. Sekarang melalui aplikasi yang di-download di Android, namanya Antrian Paspor. Itu tulisannya, Bu,” dengan nada sopan dan sabar sambil menunjuk spanduk besar terpampang nyata tanpa rekayasa di depan gerbang yang mengarah ke jalan raya. Harusnya spanduk ini bisa saja saya baca waktu motor yang dikendarai Erfan melintas masuk gerbang. Harusnya Om saya yang dua minggu lalu mengurus e-paspor (walaupun pakai jalur “cepat”) juga bisa info ke saya. Ah..

Lalu kami berempat yg sudah bangun subuh ini berembuk kembali kapan mau urus e-paspor sambil buka aplikasi Antrian Paspor. Soalnya buat Mila yang kerjanya di sekolah, gak mudah izin kerjanya.

Cara daftarnya juga mudah, berikut langkah-langkahnya.

  • Pertama kita harus registrasi aplikasi dengan nama lengkap dan email.
  • Kedua verifikasi email lalu login kembali.
  • Ketiga pilih Kantor Imigrasi yang terdekat. Perlu diingat kalau kita menyalakan future ‘location’ di handphone, pilihan yang muncul cuma yg terdekat dari lokasi kita. Karena kami tinggalnya berjauhan jadi sepakat di KanIm Jakarta Selatan lagi.
  • Keempat, pilih tanggal dan waktu; pagi atau siang untuk mengurus paspor kita.
    Kami sepakat urus lagi di hari Kamis tanggal 13 Juli minggu depannya. Saat saya pilih waktu pagi, masih tersedia 239 kuota.
  • Kelima masukan data pemohon yang boleh sampai tiga orang. Data pemohon ini harus diisi dengan nama lengkap sesuai KTP.

Selesai memilih, muncul semacam pop up yang berisi info bahwa kita harus datang jam 08.00-09.00 dan tiga barcode yang akan digunakan untuk mengambil nomor antrean. Aplikasi ini sementara hanya bisa diakses di handphone Android dengan OS minimal 4.2 ya.

Jadi tanggal 13 Juli jam 07.30 kami sudah bertemu kembali di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan alias Mampang. Desti naik GoJek, Mila naik GoJek, saya dianter Erfan hehe. Kemudian kami berempat diarahkan sekuriti untuk menunggu di ruang tunggu di lantai 1 dekat loket Bank BRI karena loket di lantai 2 baru akan buka jam 08.00. tapi gak sampai jam 08.00 pun sekuriti memberitahukan kami untuk segera ke lantai 2 dan mengantre ambil nomor antrean.

Petugas yg melayani nomor antrean akan tanya, kita mau bikin baru atau perpanjang/ubah paspor. Saya bilang mau perpanjang/ubar paspor, kemudian petugas akan scan 3 barcode di handphone Android saya. Karena valid, di handpone petugas akan keluar notifikasi barcode kami terdaftar atas nama 3 orang. Lalu satpam memencet mesin pencetak nomor antrean 3 kali untuk saya, Desti dan Mila. Kami bertiga mendapat nomor antrian 3-011 – 013.

Lalu kami nunggu di ruang tunggu besar yg ada layar tv nomer pendaftar yang lagi di loket, jadi kita bisa tahu kira-kira berapa lama lagi kita akan dipanggil. Jadi kalo masih lama bisa makan bubur dulu di deket situ… Enggak deng. Kami terlalu deg-degan untuk even minum.

 

Sekitar setengah jam kemudian nomor kami dipanggil dan saya duduk di loket 5. Petugas yang ramah menyapa saya lalu menanyakan beberapa pertanyaan dengan santai seperti “memang mau kemana?” (ini karena paspor saya masih berlaku sampai Januari 2019 tapi ganti jadi e-paspor), “sudah beli tiketnya?”, “pergi sama siapa?”, dan “memang kuliah dimana?” (ini karena saya bilang mau Jepang karena dulu kuliahnya jurusan Sastra Jepang).

GANTI PASPOR BARU CUKUP BUTUH KTP dan PASPOR LAMA

Ternyata eh ternyata, saya gak perlu menyerahkan foto copy KK, Akte Kelahiran, Ijazah padahal sudah menyiapkannya. Itu karena paspor lama masih berlaku sangat lama jadi data saya masih tersimpan. Petugas tinggal ngecek nama kecil Ibu, alamat, status dan lain-lain langsung di layar komputer yang kami lihat bareng (tanpa pegangan tangan ya.). Jadi saya hanya diminta menunjukkan KTP asli dan kasih paspor lama asli serta foto copy KTP. Efisien banget kan?!

Kemudian saya dipas foto, diulang satu kali doang (ya udah lah ya, udah tegang mau gemana lage, elek-elek uwga) lalu dikasih kertas tanda biaya yang harus dibayarkan, yaitu Rp655.000 (e-paspor). Di kertas tersebut ada barcodenya juga, berguna untuk mengambil nomor antrian saat pengambilan e-paspor. Sama lah kayak awal daftar perpanjangan/ubah tadi. Seluruh proses itu, jika dokumen lengkap, nggak ada masalah dan hanya mengurus 1 paspor saja, hanya memerlukan waktu paling lama 15 menit.

Jadi total dari saya sampai Kantor Imigrasi dan mendapat nomor antrian, menunggu loket dibuka, menunggu dipanggil sampai selesai hanya memakan waktu sekitar 1 jam!

Kantor Imigrasi Jakarta Selatan juga menyediakan loket pembayaran melalui Bank BRI di lantai 1. Selesai membayar biaya pembuatan paspor baru, kita bisa pulang. Kita bisa mengecek proses perpanjangan maupun pembuatan paspor lewat chat WAGS Kantor Imigrasi Indonesia.

CEPATNYA PROSES dan MUDAHNYA PENGAMBILAN

Malamnya di hari yang sama saya coba Whatsapp untuk cek sampai di mana e-paspor saya diproses, ternyata sudah jadi dan bisa diambil keesokan harinya! Cepet sekali! Kirain butuh waktu 2 hari kerja. e-paspor Mila juga! Senangnyaaa.. Tapi punya Desti belum 🙁 Eh tapi gak sedih dong, karena besok lusanya (Sabtu) cek status di Whatsapp, sudah jadi juga dong ePaspornya! Benar seperti acuan pertama, yaitu 2 hari kerja. Lalu kami berunding di WAG kapan hari mereka bisa ijin untuk ambil e-paspor sekaligus ke Kedutaan Jepang.

Berikut tampilan chat dari WAGS Kantor Imigrasi Indonesia

Hari Senin kami ketemuan lagi di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan untuk ambil e-paspor, sekitar jam 08.30. Sama seperti kemarin, harus antri di lantai 2 untuk scan barcode di lembar pembayaran, lalu mesin pencetak nomor keluar. Karena kami datang gak berbarengan waktunya, jadi ada jeda panggilan di antara kami. Loket dibuka dan mulai pemanggilan pertamanya jam 09.00.

Saat nomer kita dipanggil, kita diminta menyerahkan struk atau bukti pembayaran lunas yg sebelumnya sudah kita bayarkan, lalu petugas langsung mencari paspor kita. Kadang petugas ngajak ngobrol, sedikit bercanda begitu lah.

Walaupun nomor antrean sudah di atas 25 orang, sampai semua ePaspor kami berada di tangan (tidak dapat diwakilkan kecuali anggota keluarga) nyatanya gak sampai lebih dari 1 jam kok. Jam 09.30 kami sudah bergegas ke bawah lobi, memesan GoCar untuk langsung pergi ke Kedubes Jepang untuk ngajuin visa waiver yang kabarnya (ini sotoy kami aja, biar gak ngaret) bisa ambil nomor antrean hanya sampai jam 12.00.

 

Recap:

  • Daftar pengurusan paspor melalui aplikasi Android ‘Antrian Paspor’ agar mudah menentukan lokasi, tanggal dan waktu.
  • Datang sebaiknya setengah jam sebelum waktu yg ditentukan agar lebih cepat dapat nomor antrean.
  • Untuk penggantian paspor lama ke paspor elektronik saya hanya dimintai fotocopy KTP, paspor lama asli dan prosesnya paling lama 2 x 24 jam. Bahkan punya saya, masuk pagi, malam jadi!
  • Biaya pembuatan atau penggantian e-paspor memakan biaya Rp655.000, bisa langsung bayar di loket Bank BRI yg ada di Lantai 1 Kantor Imigrasi Jakarta Selatan.
  • Pengambilan paspor baru mulai dari jam 09.00, sebaiknya datang dari jam 08.30 untuk mengambil nomor antrean.
  • Meskipun begitu, pengambilan paspor tidak lah butuh waktu lama. Sampai di loket petugas langsung mengecek barcode lembar pembayaran, mengambil paspor kita, dan paspor pun kita terima.
  • Lama berlakunya paspor elektronik sama dengan paspor biasa, yaitu 5 tahun (dihitung ulang dari awal).

Kalau dihitung totalnya, saya daftar hari Kamis, sampai ambil hari Senin, berarti memakan waktu 3 hari kerja (meski 2 hari e-paspor juga sudah jadi).

Ditambah mengurus visa waiver Jepang 1 hari, total 4 hari saja lho. Nah, tulisan saya mengenai pengalaman mengurus Visa waiver Jepang bisa dibaca DI SINI ya.

 

 

Follow and Like Us at:

One Reply to “Cara Mengganti Paspor Biasa jadi E-Paspor, Mudah dan Cepat!”

  1. […] e-paspor sudah di tangan (baca cara mengganti paspor biasa DI SINI), pagi itu juga tanggal 17 Juli dari Kantor Imigrasi Jakarta Selatan saya, Desti dan Mila bergegas […]

Leave a Reply